Senin, 21 Februari 2011

Membayangkan Kota Tua Banten Lama

Membayangkan Kota Tua (Bagian 1)
Cahaya matahari cukup membuat keringat bercucuran ketika sepeda motor Yahama Jupiter kupacu ke arah Banten Lama. Jam arlojiku menunjuk angka 11.30. Hari Minggu 17 Juli itu, aku memang ingin mengunjungi situs sejarah yang penting bagi identitas orang Banten. Ini adalah perjalanan pertamaku ke objek wisata di Banten. Tekadku mantap, hendak menuliskan kisah jalan-jalanku dalam weblog tentang traveling. Bekalku cuma tas pinggang yang bergelantung di sabuk celana. Isinya pun sepele : buku notes, kamera saku digital dan sebuah bolpoint. Tak lupa dua buah handphone yang selalu aku bawa kemana pun pergi.
Aku memutuskan mengambil rute dari Ciceri. Sebetulnya ada peta di dinding kantorku yang bisa jadi rujukan. Hanya saja, pagi itu ruang administrasi, tempat peta kota Serang dipajang, terkunci. Jadilah hanya satu tempat tujuan yang tersisa di memori kepala yaitu Banten Lama.

Banten dan Sejarah Kejayaan

Mengingat nama Banten pada masa lalu, terbayang kejayaan bandar antarpulau dan negara. Nama yang tersangkut di dalamnya adalah Sultan Ageng Tirtayasa, pahlawan nasional asal Kerajaan Banten yang terkenal gigih melawan pemerintahan kolonial Belanda.

Banten memang kaya peninggalan sejarah dari zaman megalitik sampai penjajah Jepang, meskipun bila kita ke sana saat ini banyak prasarana umum yang tertinggal. Ragam peninggalan di sana mencerminkan tingginya peradaban nenek moyang, luasnya pergaulan orang Banten sampai di tingkat internasional dengan rasa toleransi begitu tinggi antaretnis dan agama saat itu.